Pengaruh Penambahan tepung Beras dan Terigu Pada Media Jagung Giling Terhadap Jumlah Spora Jamur Metarrhizium anisopliae

 

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG BERAS DAN TEPUNG TERIGU PADA MEDIA JAGUNG GILING TERHADAP PENINGKATAN JUMLAH SPORA JAMUR Metarhizium anisopliae

 

SKRIPSI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

CAHYO ARTHO NUGROHO

NIM: 03.10407.00037;

 

 

 

 

JURUSAN AGRONOMI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO

2007

 

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG BERAS DAN TEPUNG TERIGU PADA MEDIA JAGUNG GILING TERHADAP PENINGKATAN JUMLAH SPORA JAMUR Metarhizium anisopliae

 

SKRIPSI

 

 

 

 

 

Oleh:

CAHYO ARTHO NUGROHO

NIM: 03.10407.00037;

 

 

Disampaikan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Pertanian Strata Satu (S-1)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURUSAN AGRONOMI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO

2007

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Metarhizium telah lama dikenal sebagai salah satu musuh alami dari golongan jamur sebagai agen pengendali hayati berbagai serangga hama beberapa komoditi pertanian dan perkebunan. Green mushcardine adalah nama lain dari Metarhizium yang pada pertama kalinya ditemukan pada serangga hama gudang pada penyimpanan gandum. Penggunaan agens hayati telah berkembang cukup pesat di berbagai belahan dunia, dimana mereka mempunyai kesadaran yang tinggi pada keseimbangan lingkungan dan mengharapkan setiap kegiatan budidaya pertanian tidak mempengaruhi keseimbangan ekosistem pembentuknya. Mereka sadar bahwa salah satu penghancur keseimbangan ekosisitem adalah akibat dari penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dapat melahirkan mutan-mutan baru serangga hama yang mempunyai resistensi terhadap pestisida yang digunakan. Hal ini akan mendorong peningkatan dosis pada penggunaan selanjutnya. Oleh karena itu perlu upaya untuk beralih dari penggunaan pestisida kimia ke pestisida hayati.

Kebiasaan menggunakan pestisida kimia untuk menekan kerugian ekonomi dalam kegiatan budidaya pertanian telah mengakar dalam pola berpikir petani Indonesia, yang menginginkan hasil yang cepat tanpa memperhatikan dampak yang diakibatkannya. Dengan penggunaan pestisida yang tidak sesuai dosis mengakibatkan rusaknya ekosistem. Dan lagi dengan adanya residu pestisida pada komoditi pertaniaan yang merugikan konsumen. Karena pada era globalisasi konsumen bersikap lebih kritis terhadap keamanan pangan dari komoditi yang mereka konsumsi.

Kendala yang dialami adalah tidak semua petani mau merubah kebiasaan yang telah lama dilakukan. Alasan petani enggan beralih dari menggunakan pestisida kimia ke produk agens hayati bukanlah tanpa sebab, sifat agens hayati yang spesifik lokasi dan lambat dalam menginfeksi inang adalah alasan utamanya. Diperlukan ketrampilan dalam proses perbanyakan masal yang belum semua petani menguasai. Kualitas yang dihasilkannya pun tidak bisa seragam dan seringkali mengalami kemunduran. Skripsi ini memilih Metarhizium sebagai obyek penelitian. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Metarhizium telah umum digunakan dalam proses pengendalian hayati terutama untuk mengendalikan hama kelapa, Oryctes rhinoceros. Selama ini permasalahan dari proses perbanyakan masal Metarhizium adalah hasil dari perbanyakan tersebut memiliki tingkat keseragaman yang rendah baik dari jumlah spora yang dihasilkan maupun waktu sporulasi. Untuk itu perlu adanya upaya untuk menemukan media yang cocok dalam perbanyakan masal Metarhizium. Penambahan tepung terigu maupun tepung beras pada media jagung giling diharapkan mampu meningkatkan jumlah spora agens hayati Metarhizium. Hal tersebut didasarkan pada pendapat Ferron (1981) bahwa sumber nutrisi dapat berpengaruh pada pertumbuhan jamur entomopatogen.

Media jamur harus mengandung subtansi organik sebagai sumber C, sumber N, ion anorganik dalam jumlah yang cukup sebagai pemasok pertumbuhan dan sumber vitamin (Inglod, 1967).

Kandungan karbohidrat yang tinggi pada tepung beras dan tepung terigu yang tinggi akan protein gandum diharapkan mampu meningkatkan jumlah spora jamur Metarhizium anisopliae

1.2. Tujuan

Mengetahui pengaruh penambahan tepung beras dan tepung terigu pada media jagung giling terhadap keseragaman waktu sporulasi dan peningkatan jumlah spora Metarhizium anisopliae.

1.3. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian tersebut adalah: Penambahan tepung terigu dan tepung beras pada media jagung giling dapat meningkatkan kecepatan sporulasi, jumlah dan keseragaman spora.

 

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah akan diperoleh informasi mengenai peranan tepung beras dan tepung terigu untuk meningkatkan jumlah spora jamur Metarhizium anisopliae.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1. Klasifikasi Metarhizium anisopliae

Taksonomi dan morfologi

Kingdom : Fungi

Divisi : Eumycota

Kelas : Deuteromycetes

Ordo : Moniliales

Famili : Moniliaceae

Genus : Metarhizium anisopliae (Ainsworth, 1973)

Morfologi dari Metarhizium yang telah banyak diketahui yaitu konidiofor tumbuh tegak, spora berbentuk silinder atau lonjong dengan panjang 6-16 m, warna hialin, bersel satu, massa spora berwarna hijau zaitun. Metarhizium sp. tumbuh pada pH 3,3-8,5 dan memerlukan kelembaban tinggi. Radiasi sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan pada spora. Suhu optimum bagi pertumbuhan dan perkembangan spora berkisar pada 25-30oC. Metarhizium mempunyai miselia yang bersepta, dengan konidia yang berbentuk lonjong. Metarhizium anisopliae bersifat saprofit pada media buatan, awal mula pertumbuahannya adalah tumbuhnya konidium yang membengkak dan mengeluarkan tabung-tabung kecambah (Anonim,1999).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.Isolat murni Metarhizium anisopliae

Tabung kecambah tersebut memanjang dan memanjang selama 30 jam. Beberapa cabang tersebut membesar kearah atas membentuk konidiofor yang pendek, bercabang, berdekatan dan saling melilit. Konidia terbentuk setelah satu minggu pertumbuhan, mula-mula berwarna putih kemudian berangsur menjadi hijau apabila telah masak. Pembentukan konidia terdiri dari kuncup dan tunas yang memanjang pada kedua sisi konidiofor tersebut. Umumnya sebuah rantai konidia bersatu membantuk sebuah kerak dalam media (Gabriel dan Riyatno, 1989).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Konidia Metarhizium anisopliae

 

Spesias pertama genus Metarhizium (Subdivision Deteromycotina; Class Hyphomycetes; Order Moniliales). Metarhizium anisopliae, diisolasi dari serangga Coleoptera spesies Anisopliae austriacaI oleh Metchnikoff pada tahun 1878. Metarhizium spp. biasanya ada dimana-mana di seluruh dunia dalam fase yang berbeda-beda, yaitu diantara fase saprofit tanah dan fase patogen pada serangga. Metarhizium spp. (termasuk M. anisopliae, M. flavoviride, M. album dan M. brunneum) secara umum mempunyai sasaran inang yang luas.

Dibawah kondisi alami, Metarhizium spp menghasilkan dua jenis spora. Aerial conidia yang dihasilkan pada phialid-phialid selama fase saprofitik atau pada inang yang telah mati, dan didefinisikan sebagai spora-spora aseksual yang dihasilkan pada sporogenous dan hifa khusus yang dikenal sebagai phialid. Tipe spora yang kedua adalah spora yang dihasilkan di hemolymph serangga yang biasanya disebut “blastospora”(Taborsky,1992).

 

2.2. Mekanisme Kerja Metarhizium anisopliae

Ellyda (1982) memberikan contoh dengan menaburkan Metarhizium anisopliae secara merata pada sarang O. rhinoceros dengan kedalaman 25-30 cm sebanyak 15-20 gr/m2 ternyata dapat mematikan larva O. rhinoceros sebanyak 52%.

Dalam hal ini kontak langsung antara konidia dengan tubuh memegang peranan dalam penularan, karena menghasilkan patogenisitas terbanyak adalah dengan kontak langsung (Zelazny, 1988). Bila larva memakan ransum yang dicampur dengan M. anisopliae maka tinja yang dikeluarkan akan mengandung konidia. Hal ini dapat membantu penyebaran M. anisopliae (Sungkowo, 1985), Metarhizium anisopliae terbukti cukup aman terhadap hewan yaitu, tikus sehingga aman utuk digunakan dalam pengendalian hama secara mikrobiologi (Gabriel dan Riyatno, 1989)

Roberts (1981) menyatakan bahwa perkembangan penyakit akibat serangan M. anisopliae pada serangga dapat dibagi dalam sembilan tahap:

  1. Penempelan bagian infektif yaitu konidia pada kutikula serangga.

  2. Perkecambahan konidia pada kutikula.

  3. Penetrasi tabung kecambah atau apresorium ke dalam kutikula.

  4. Perbanyakan hifa pada haemocoel.

  5. Produksi toksin yang dapat merusak struktur membran sel.

  6. Kematian inang.

  7. Pertumbuhan dalam fase miselium dengan penyebaran miselium ke seluruh organ tubuh serangga.

  8. Penetrasi hifa dari kutikula keluar tubuh serangga

  9. Produksi bagian infektif (konidia) di luar tubuh serangga.

Dinyatakan bahwa jamur Metarhizium anisopliae memiliki aktivitas larvisidal karena menghasilkan cyclopeptida, destruxin A, B, C, D, E dan desmethyldestruxin B.9 Destruxin telah dipertimbangkan sebagai bahan insektisida generasi baru. Mittler (1994) dalam Widiyanti dan Muyadihardja menyatakan bahwa efek destruxin berpengaruh pada organella sel target (mitokondria, retikulum endoplasma dan membran nukleus), menyebabkan paralisa sel dan kelainan fungsi lambung tengah, tubulus malphigi, hemocyt dan jaringan.

2.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan Metarhizium anisopliae

  1. Suhu dan Kelembaban

Pertumbuhan dan perkembangan Metarhizium anisopliae sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan antara lain suhu, sinar matahari, pH dan kelembaban (Soenardi, 1978).

Suhu dan kelembaban sangat mempengaruhi pertumbuhan jamur Metarhizium terutama untuk pertumbuhan dan perkecambahan konidia serta patogenesitasnya. Batasan suhu untuk pertumbuhan jamur antara 5-35oC, pertumbuhan optimal terjadi pada suhu 23-25oC. Konidia akan tumbuh dengan baik dan maksimum pada kelembaban 80-92 persen (Burges dan Hussey, 1971).

  1. Sinar Matahari

Perkembangan konidia jamur M. anisopliae dapat terhambat apabila terkena sinar matahari secara langsung. Konidia tidak akan mampu berkecambah apabila terkena sinar matahari langsung selama satu minggu, sedangkan konidia yang terlindung dari sinar matahari mempunyai viabilitas yang tinggi meskipun disimpan lebih dari tiga minggu (Storey dan Garner, 1988). Pada suhu 8oC konidia yang disimpan pada kondisi gelap selama 3-5 hari masih mampu berkecambah 90%, sedangkan pada keadaan terang hanya 50% (Clerk dan Madelin dalam Wiryadiputra, 1985).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Perkecambahan Metarhizium anisopliae

  1. pH

Dalam beberapa penelitian pH media berpengaruh tehadap pertumbuhan jamur Metarhizium. Tingkat pH yang sesuai berkisar antara 3,3-8,5, sedangkan pertumbuhan optimal terjadi pada pH 6,5 (Burges, 1981).

 

2.4. Perbaikan Strain

Jamur-jamur dari kelas Deuteromycetes, seperti Metarhizium tidak memiliki siklus seksual jadi rekombinasi hanya dapat dicapai melalui siklus paraseksual atau manipulasi genetik secara langsung. Rekombinasi dari heterozigot diploid dihasilkan oleh hypal anastomosis atau penggabungan protoplast yang telah diidentifikasi dari Metarhizium (Heale et al, 1989). Rekombinasi paraseksual yang terjadi secara terus menerus dalam media buatan menunjukkan berkurangnya pathogenesitas dibandingkan dengan yang tetua yang tumbuh liar di alam yang mempunyai kemungkinan untuk merusak kelompok-kelompok gen yang mempunyai sifat pathogen. Demonstrasi transformasi baru-baru ini dalam filament jamur telah menujukkan bahwa teknik-teknik kloning molekul dapat digunakan untuk meneliti penentuan patogenesitas jamur entomopatogen. Pengkodean gen-gen isolat untuk penentuan patogenesitas spesifik dan memproduksi organisme dengan mempertinggi virulensi. Sekarang Metarhizium menjadi jamur yang paling tepat untuk pendekatan pendugaan, ada dua pendugaan yang menentukan patogenesitas atau virulensi, seperti enzim endoprotease, chymoelastase dan destruxin (Taborsky, 1992).

 

2.4. Kebutuhan Nutrisi Jamur Metarhizium anisopliae

Ferron (1981) berpendapat bahwa sumber nutrisi dapat berpengaruh pada pertumbuhan jamur entomopatogen.

Media jamur harus mengandung subtansi organik sebagai sumber C, sumber N, ion anorganik dalam jumlah yang cukup sebagai pemasok pertumbuhan dan sumber vitamin (Inglod, 1962).

Metarhizium anisopliae memerlukan karbohidrat sebagai sumber karbon dalam pertumbuhannya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan karbohidrat tinggi mendorong pertumbuhan vegetatif jamur (Bilgrami dan Verma, 1981).

Pembentukan konidia jamur dipengaruhi oleh kandungan protein dalam media. Protein diperlukan untuk pembentukan organel yang berperan dalam pembentukan apikal hifa dan sintesis enzim yang diperlukan selama proses tersebut dan enzim juga berperan dalam aktivitas perkecambahan dan protein yang diserap dalam bentuk asam amino (Garraway dan Evans, 1984).

Jamur entomopatogen membutuhkan oksigen, air dan sumber organik karbon dan energi. Sumber nitrogen baik organik maupun anorganik dan bahan tambahan lain berupa mineral maupun pemacu tumbuh juga diperlukan. Sumber karbon yang biasa digunakan sebagai media adalah dekstrose namun dapat diganti dengan polisakarida seperti tajin atau lipid. Nitrogen dapat disediakan dalam bentuk nitrat, amonia atau bahan organik seperti asam amino atau protein. Makronutrisi penting yang lain adalah phospor (dalam bentuk phospat), potassium, magnesium dan sulfur ( yang disediakan dalam bentuk sulfat maupun dalam bentuk organik, cystein atau methionine). Mikronutrisi penting yang dibutuhkan oleh kebanyakan jamur entomopatogen adalah kalsium, besi, tembaga, mangan, molybdenum, zinc dan vitamin B komplek, khususnya biothine dan thiamine. Semua mikronutrisi ini biasanya terdapat dalam bahan mentah, akan tetapi dapat di penuhi dalam bentuk protein hidrolisat atau ekstrak yeast (Taborsky, 1992).

2.5. Produksi Metarhizium skala kecil

Isolat Metarhiziun anisopliae harus diambil dari inang kemudian di tanam pada media sabouraud cair. Inkubasi media cair dilakukan sampai delapan hari, kepadatan spora dapat mencapai 3,19 x 1010.

Kondisi cahaya terang maupun gelap tidak berpengaruh pada produksi massal konidia dan temperatur adalah faktor penting untuk menghasilkan konidia. Setelah 6 hari temperatur yang baik untuk pertumbuhan Metarhizium adalah 24-25oC dan selanjutnya dapat diturunkan sampai pada temperatur 22-20oC (Taborsky, 1992).

2.6. Fase Pertumbuhan Jamur

Gandjar dan Sjamsuridzal (2006) menyebutkan bahwa setiap organisme, termasuk jamur mempunyai kurva pertumbuhan, begitu pula fungi. Kurva tersebut diperoleh dari menghitung massa sel dalam waktu tertentu. Kurva pertumbuhan mempunyai beberapa fase antara lain :

  1. Fase lag, yaitu fase penyesuaian sel-sel dengan lingkungan dan Pembentukan enzim-enzim untuk mengurai substrat.

  2. Fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan fase lag menjadi fase aktif.

  3. Fase eksponensial, merupakan fase perbanyakan jumlah sel yang sangat banyak, aktifitas sel sangat meningkat, dan fase ini merupakan fase yang penting dalam kehidupan fungi.

  4. Fase deselerasi (Moore-landecker, 1996), yaitu fase dimana sel-sel kurang aktif membelah.

  5. Fase stasioner, yaitu fase dimana jumlah sel yang bertambah dan jumlah sel yang mati relatif seimbang. Kurva pada fase ini merupakan garis lurus yang horizontal.

  6. Fase kematian dipercepat, jumlah sel-sel yang mati atau tidak aktif lebih banyak daripada sel-sel yang masih hidup.

Kurva pertumbuhan fungi dapat dilihat pada gambar berikut

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

(1) fase lag; (2) fase akselerasi; (3) fase eksponensial ; (4) fase deselerasi ; (5) fase stasioner ; (6) fase kematian dipercepat

 

Gambar 3. Kurva pertumbuhan fungi

2.7. Kandungan Nutrisi Beberapa Tepung Serealia

Berdasarkan informasi dari Bogasari flour Mills kandungan terigu per 100 gram adalah: Energi : 340 kalori, Protein (d.b) 13 gram, karbohidrat : 70 gram, besi: 5 mg zinc : 3 m, asam folat: 0,2 mg, Kalsium 13 mg, lemak: 0,9 gram, Vitamin B1 dan B2 masing-masing 0,25 mg dan 0,4 mg (Anonymous,2007).

Kandungan nutrisi beberapa tepung serealia adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Beberapa Tepung Serealia

 

Kandungan nutrisi

Terigu

Sorgum

Beras

Jagung

Lemak (%)

2,09

3,65

1,88

5,42

Serat kasar (%)

1,92

2,74

1,05

4,24

Abu (%)

1,83

2,24

1,52

1,35

Protein (%)

14,45

10,11

9,28

11,02

Pati (%)

78,74

80,42

86,45

79,95

Sumber : Suarni (2001).

BAB III

BAHAN DAN METODE

 

3.1. Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di laboratorium Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Jawa Timur yang berlokasi di kecamatan Mojoagung –Jombang. Lokasi berada pada ketinggian 350-400 mdpl dengan suhu ruang laboratorium berkisar antara 250-300C. kelembaban 60-75% Penelitian berlangsung mulai bulan Mei sampai dengan Agustus 2006.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan digunakan dalam penelitian meliputi :

Bahan : Isolat murni jamur Metarhizium anisopliae yang diperoleh dari laboratorium BPTP Jatim, jagung giling, botol kaca tahan panas, tepung beras (cap mawar), tepung terigu (protein tinggi), alkohol, aquades steril, gas elpiji, spiritus, tisu, kapas dan kertas

Alat : Mikroskop, inoculum chamber, autoclave, timbangan analitik, Haemacytometer tipe improve naubauer, hand counter, jarum ose, lampu bunsen, kompor gas, dandang, panci, gelas ukur dan pipet tetes.

3.3. Metode Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah media perbanyakan jamur (M) yang terdiri dari tiga level yaitu:

M0 : Jagung giling (kontrol)

M1 : Media jagung giling ditambah dengan tepung beras (1g tepung beras/100g jagung)

M2 : Media jagung giling ditambah dengan tepung terigu (1 g tepung terigu/ 100g jagung)

Faktor kedua adalah konsentrasi spora starter Metarhuizium anisopliae, yang terdiri dari dua level yaitu:

K1 : 106 spora/gram

K2 : 10­­7 spora/gram.

Berdasarkan kedua faktor tersebut diatas maka diperoleh 6 (enam) kombinasi perlakuan yaitu:

MEDIA

KONSENTRASI SPORA

K1

K2

M0

M0 K1

M0 K2

M1

M1 K1

M1 K2

M2

M2 K1

M2 K2

 

Masing-masing kombinasi diulang 3 (tiga) kali sehingga terdapat 18 satuan percobaan dengan denah sebagai berikut:

ULANGAN I

ULANGAN II

ULANGAN III

M0 K1

M0 K1

M0 K1

M0 K2

M0 K2

M0 K2

M1 K1

M1 K1

M1K1

M1 K2

M1 K2

M1 K2

M2 K1

M2 K1

M2 K1

M2 K2

M2 K2

M2 K2

 

3.4. Cara Kerja Penelitian

3.4.1. Persiapan Laboratorium

a. Penyiapan alat dan bahan

Alat-alat yang diperlukan harus dipersiapkan terlebih dahulu guna memperlancar kegiatan penelitian. Penyiapan alat dan bahan ini meliputi sterilisasi alat dan penyiapan bahan. Alat-alat yang digunakan terlebih dahulu dicuci dengan air dan sabun hingga bersih. Selanjutnya alat disteril, alat yang terbuat dari kaca disterilkan dengan menggunakan oven dengan suhu 1800C selama satu jam. Sedangkan alat yang terbuat dari plastik cukup disemprot dengan alkohol 90%. Alat pendukung lainnya adalah inoculum chamber, alat tersebut disterilkan dengan cara menyemprotkan alkohol 90% kemudian disinari dengan sinar ultraviolet (UV) selama 30 menit.

 

 

 

b. Penyiapan Isolat Jamur Metarhizium anisopliae

Isolat jamur Metarhizium (F1) diperoleh dari laboratorium BPTP Jatim yang telah distabilkan. Syarat isolat yang masih dapat digunakan adalah jumlah spora minimal 106 atau107. viabilitas 90%,

3.4.2. Pembuatan media

Media pokok dari jamur Metarhizium pada penelitian ini adalah jagung giling. Langkah-langkah dalam mempersiapkannya adalah sebagai berikut:

  1. Menimbang jagung giling sesuai kebutuhan kemudian dicuci dengan air sampai bersih, membersihkan jagung giling dari pipilan bonggol, pecahan jagung hampa, yang ditunjukkan dengan mengambangnya pecahan jagung, serta kotoran lainnya. Setelah bersih lalu ditiriskan.

  2. Menyiapkan dandang sabluk dan panci untuk merebus air, setelah air mendidih tanak jagung giling kedalam dandang sabluk. yang telah disiapkan. Setelah setengah matang didinginkan selama kurang lebih 20 menit atau sampai uap panasnya hilang.

  3. Memasukkan jagung giling kedalam botol kaca sebanyak 100 gram per botol kemudian tambahkan tepung beras dan tepung terigu sesua dengan perlakuan sebanyak 1 gram per botol.

  4. Langkah selanjutnya adalah sterilisasi media, media jagung giling disterilkan menggunakan autoclave dengan suhu 121 0C pada tekanan 1 atm selama 1 jam. Media telah siap untuk diinokulasi jika suhu media telah dingin.

 

3.4.3. Inokulasi

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam inokulasi adalah kesterilan media, alat dan ruangan yang digunakan dalam kegiatan tersebut. Setiap proses inokulasi berlangsung dihindari adanya aliran udara seperti AC dan kipas angin. Alat dan bahan yang diperlukan dalam proses inokulasi adalah inoculum chamber, lampu bunsen, jarum ose, korek api, erlenmayer, isolat Metarhizium serta alkohol.

Inokulasi media dilakukan sebagai berikut:

  1. Membuka kapas penutup botol yang telah berisi media jagung giling.

  2. Menginokulasi isolat metarhizium kedalam media.

  3. Menutup kembali botol kaca dengan kapas.

  4. Mengocok media yang sudah diinokulasi.

Lakukan kegiatan tersebut sampai media terinokulasi semua.

4.4. Inkubasi

Inkubasi adalah proses atau masa antara inokulasi sampai pertumbuhan koloni yang karateristik atau sampai terbentuk spora penuh. Masa inkubasi spora jamur Metarhizium yaitu antara 20-30 hari. Dalam masa inkubasi, jamur Metarhizium hendaknya diletakkan didalam ruangan khusus dengan intensitas cahaya yang rendah. Suhu terbaik bagi pertumbuhan Metarhizium pada dua minggu pertama adalah 22-250C dan selanjutnya antara 20-270C. Sedangkan kelembaban yang diperlukan Metarhizium adalah 70-80%. Persyaratan tumbuh tersebut harus dipenuhi nilainya sampai masa inkubasi berahir. Hal ini perlu diperhatikan agar pertumbuhan Metarhizium dapat berjalan sempurna dan menghasilkan jumlah spora yang seragam.

3.4.5. Perhitungan Kepadatan Spora

Perhitungan jumlah spora dilakukan setiap tujuh hari sekali hal ini dilakukan agar petambahan jumlah spora pada setiap mingunya dapat dipantau, sehingga dapat diketahui bagaimana fluktuasi pertambahan jumlah spora akibat dari pengaruh penambahan tepung beras dan tepung terigu.

Perhitungan spora dilakukan dengan cara mengambil 1 gram media yang sudah ditumbuhi jamur Metarhizium lalu disuspensikan kedalam 100 ml air, bila perlu dapat ditambah dengan bubuk diterjen secukupnya untuk membantu melepes spora dari phialidnya. Selanjutnya suspensi jamur Metarhizium di gojok dengan shaker sampai spora terlepas dari medianya. Ambil suspensi Metarhizium dengan menggunakan pipet tetes lalu teteskan pada bidang hitung haemocytometer yang sebelumnya ditutup dengan cover glass. Amati dan hitung jumlah spora dengan mikroskop perbesaran 400x. Jumlah spora dihitung pada kotak perhitungan diulang tiga kali dengan tempat pengambilan yang berbeda yaitu di atas, tengah dan bawah larutan supensi.

Jumlah spora di hitung dengan menggunakan rumus,

 

 

 

Keterangan:

S : Jumlah konidia/ml

T : Jumlah total koniodia yang dihitung pada kotak perhitungan.

d : Tingkat pengenceran.

n : Jumlah kotak sampel yang diamati, yaitu 80 kotak kecil.

0,25 : Faktor koreksi penggunaan kotak sampel skala kecil haemocytometer. (Gabriel dan Riyatno (1989):

 

 

3.5. Parameter pengamatan

Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah spora.

3.6. Analisis Data

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan maka data yang diperoleh dianalisa dengan uji F dengan tingkat signifikasi 5%, jika uji tersebut menunjukkan adanya pengaruh yang nyata dilakukan uji Jarak Duncan dengan tingkat signifikasi 5% (Gaspersz,1991).

Waktu (Jam/hari)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s