Pemanfaatan MOL (Mikroorganisme Lokal)

Mikroorganisme lokal, atau yang sering disebut MOL adalah kumpulan organisme bermanfaat yang dapat digunakan sebagai dekomposer, agens hayati dan pupuk mikroba bagi tanaman.  Eksplorasi dan pengembangan MOL sangat mudah dilakukan, kita tinggal mengeksplorasi dari mana mol tersebut akan dipilih.  Bonggol pisang, rebung, buah maja, buah maupun sayur bisa digunakan sebagai sumber biakan.

Mikroorganisme-mikroorganisme non patogenik bagi tanaman yang di eksplor dari berbagai bahan organik tersebut mempunyai karateristik yang berbeda.  Mikroorganisme yang dieksplor dari bonggol pisang akan berbeda dengan mikroorganisme yang di eksplor dari rebung.  Sederhananya adalah mikroorganisme yang menguraikan rebung ekologinya berada di sekitar rebung tesebut, bisa dari permukaan tanah atau berada di sekeliling pertanaman bambu.  Sedangkan mikroorganisme yang menguraikan bonggol pisang ekologinya ya pasti di sekitar perakaran atau bonggol pisang, berada di dalam tanah dan materi bahan yang akan terdekomposisi juga berbeda, rebung dan bonggol pisang mempunyai sruktur dan susunan sel yang berbeda.  Sehaingga mikroorganisme yang menguraikannya juga berbeda.

Peranan MOL sebagai salah satu materi yang berguna bagi pertanian perlu mendapat perhatian dan perlu pengujian-pengujian serta penelitian lebih lanjut.  Biofertilizer berbasis mikroorganisme diharapkan mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah, biologi tanah serta menyeimbangkan kembali ekosistem pertanian, baik lingkungan rhizosfer maupun lingkungan lingkungan diatas rhizosfer.  Penelitian-penelitian lanjutan diharapkan mampu mengungkap lebih dalam tentang peranan MOL sebagai agen recovery ekosistem pertanian kita yang semakin tak seimbang.

Peran MOL sebagai dasar komponen pupuk mikroba tidak hanya bermanfaat bagi tanaman namun juga bermanfaat sebagai agen dekomposer bahan organik limbah pertanian, limbah rumah tangga dan limbah industri.  Nah untuk menggali potensi MOL lebih lanjut harus dilakukan pengujian-pengujian potensi yang dimiliki MOL tersebut.  Pemanfaatan MOL sebagai pupuk mikroba dan dekomposer harus semakin digalakkan.  Petani-petani sudah seharusnya merevolusi pemikiran mereka dari mindset intensifikasi menjadi recovery, rekonstruksi dan tidak hanya memperhatikan tujuan jangka pendek namun juga memperhatikan tujuan jangka panjang.  Pertanian dalam arti luas dan lingkungan tidak hanya milik kita pada saat sekarang namun juga menjadi milik anak cucu kita di masa depan. Apa yang dapat kita nikmati saat sekarang, udara bersih, sumber-sumber air yang melimpah, tanah pertanian yang subur serta kekayaan alam lainnya yang bersunber dari laut, darat dan udara merupakan warisan nenek moyang kita.  Sudah seharusnya kita juga mempersiapkan warisan yang baik juga bagi anak cucu kelak.

Kesan bahwa petani adalah kalangan menengah kebawah yang sangat membutuhkan uang, hasil konversi panen, dalam jangka pendek harus diubah.  Petani sudah saatnya tidak bertumpu pada harapan hasil panen semata.  Pertanian sudah harus menjadi sebuah bisnis dimana sektor-sektor penunjangnya harus digerakkan oleh petani tersebut secara mandiri.  Sektor saprodi, pupuk, pestisida misalnya, jangan hanya chemical based oriented sudah saatnya petani juga mandiri, bikin pupuk organik sendiri, bikin pestisida organik sendiri.  Dengan menggerakkan sektor saprodi secara mandiri secara tidak langsung akan berdampak pada pengurangan pemakain pupuk kimia.  Dengan berkurangnya pemakaian pupuk kimia maka modal yang selama ini di gunakan untuk membeli pupuk kimia dapat dikonversikan menjadi modal kerja untuk kegiatan pertanian yang lainnya misalnya membeli kambing untuk usaha peternakan, membuat kolam untuk usaha perikanan, dan lain sebagainya.

Pemanfaatan MOL sebagai komponen dalam pupuk mikroba diharapkan mampu membantu petani dalam produksi pupuk dan pestisida organik.  Petani diharapkan mau dan mampu memanfaatkan mikroba-mikroba lokal yang hidup di sekitar kita.  Sangat disayang kan apabila sumberdaya alam yang berupa MOL tersebut tidak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh petani.

Jasa Pengembangan Agensia Pengendali Hayati Secara Massal

Pengendalian hama penyakit secara hayati berkembang cukup pesat.  Kesadaran petani akan dampak negatif dari pemakaian pestisida kimia dalam jangka panjang telah tumbuh. Salah satu pengganti dari aplikasi pestisida kimia adalah aplikasi agensia pengendali hayati.  Agensia pengendali hayati adalah agen pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT) yang berbasis mahluk hidup.  Agensia hayati dapat digolongkan menjadi APH dari golongan mikroorganisme dan APH golongan predator.  Aph golongan mikroorganisme dibagi menjadi agensia dari golongan jamur, golongan bakteri, golongan virus, golongan nematoda dan golongan parasitoid dan parasit.  Dalam mengembangkan APH dari golongan mikroorganisme ini tidak diperlukan teknologi yang rumit.  Cukup dengan teknologi yang sederhana dan murah APH golongan mikroorganisme ini dapat dengan cepat berkembang biak.  beberapa APH dari golongan mikroorganisme ini mempunyai beberapa kelebihan dan keunggulan diantaranya adalah murah dan dapat dengan mudah dibiakkan.

Untuk membantu mengembangkan APH secara massal P2APH menyediakan jasa untuk mengembangkan agensia pengendali hayati secara masal dengan beberapa media pembawa dan formulasi.

Untuk pihak-pihak yang membutuhkan jasa dalam memperbanyak agensia pengendali hayati silahkan kontak. 081 359 080 965

Galeri

Pemanfaatan Jamur Trichoderma sp Pada Pembibitan Tembakau Kasturi

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tembakau memiliki peranan yang penting dalam perekonomian nasional baik dari aspek penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan Negara, pendapatan petani maupun sektor jasa lainnya. Tembakau dan industri hasil tembakau dalam perekonomian nasional mampu berperan menyediakan … Baca lebih lanjut

Keamanan proses Packing Produk Agensia Hayati Trichoderma harzianum

Keamanan proses Packing Produk Agensia Hayati Trichoderma harzianum

oleh

CAHYO ARTHO NUGROHO

 

Trichoderma harzianum adalah salah satu produk pengendali hayati berbasis mikroorganisme dari golongan jamur.  Usaha-usaha perbanyakan massalnya telah banyak dilakukan. Hal tersebut seiring dengan kemajuan perkembangan penggunaan agensia pengendali hayati dalam mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).  Selama ini Aplikasi Trichoderma harzianum dianggap aman bagi hewan dan manusia.  Tidak banyak laporan yang memberitakan bahwa terjadi efek merugikan akibat aplikasi jamur Trichoderma.

Belum banyak kajian yang meneliti tentang efek dari aplikasi jamur Trichoderma pada hewan dan manusia saat proses pengendalian OPT .  Akan tetapi dalam pembiakan massalnya ternyata ada pengaruh negatif dari spora jamur Trichoderma harzianum terhadap manusia.  Saat proses packing tidak dapat terhindarkan bahwa petugas pengemas jamur akan menghirup debu spora jamur Trichoderma harzianum. Debu yang berupa spora jamur Trichoderma harzianum berukuran sangat kecil, pada beberapa literatur disebutkan bahwa ukuran spora jamur Trichoderma harzianum berkisar antara 1-3 mikrometer.  Dengan ukuran spora tersebut maka spora masih dapat terhirup oleh petugas pengemas walaupun telah memakai masker, selama ini masker yang digunakan adalah masker standar.  Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya spora yang mengumpul di saluran pernafasan, di dalam hidung.

Beberapa gejala gangguan kesehatan yang diakibatkan kontak dengan debu spora jamur Trichoderma harzianum adalah sebagai berikut:

  1. Jika terkena mata, pada beberapa orang akan mengalami iritasi, rasa gatal yang sangat dalam jangka waktu tertentu, dan akan dirasakan secara periodik.
  2. Jika terhirup, pada penderita sesak nafas atau asma maka penyakit tersebut akan kambuh dalam beberapa jam setelah proses pengemasan. Dan pada orang yang sehat tergantung pada daya tahan tubuhnya saat proses pengemasan tersebut.
  3. Demam
  4. Rasa tidak enak badan
  5. Nyeri pada persendian
  6. Lemas dan tidak bergairah.

Beberapa gejala yang dirasakan oleh petugas pengemas Trichoderma harzianum mungkin disebabkan oleh aktivitas spora jamur Trichoderma harzianum.  Spora-spora jamur Trichoderma harzianum mempunyai daya viabilitas yang sangat tinggi.  Pada media buatan seperti Potato Dekstrose Agar  (PDA) dan Sabouraud Dekstrose Agar (SDA) spora akan segera berkecambah setelah minimal 3-4 jam.  Pada air murni setril akan berkecambah setelah 6-8 jam pertama.  Sedangkan pada kondisi yang tidak sesuai atau kondidsi yang ekstrem spora akan membentuk struktur tahan yang disebut dengan klamidospora dan pada kondisi dengan tingkat kompetisi yang tinggi dengan mikroorganisme yang lain maka setelah berkecambah jamur akan mengeluarkan toksin untuk mempertahankan diri dan memenangkan kompetisi.

Nah dengan beberapa efek yang dirasakan oleh petugas pengemas setelah menghirup debu spora jamur Trichoderma harzianum maka sebaiknya perlu ditetapkan prosedur keamanan pengemasan jamur Trichoderma harzianum dan beberapa Agensia hayati berbasis jamur. Beberapa peralatan yang dapat digunakan sebagai pengaman petugas saat mengemas jamur Trichoderma harzianum adalah:

  1. Masker yang mampu menyaring spora jamur Trichoderma harzianum yang berukuran 1-3 Mikrometer, sebagian orang menyebutnya dengan sebutan masker babi.
  2. Kacamata pelindung
  3. Baju laboratorium.
  4. Penutup kepala.

Selain itu disarankan untuk segera mengkonsumsi susu segar setelah melaksanakan pengemasan jamur Trichoderma harzianum, jika mengalami gangguan kesehatan yang dirasa berat maka perlu segera mengubungi dokter.  Dengan demikian untuk keamanan bersama maka diperlaukan lokasi khusus untuk mengembangkan jamur Trichoderma harzianum secara massal.  Demikian tulisan ini dibuat untuk sekedar menginformasikan bahwa ada efek negatif yang dirasakan saat melakukan pengemasan jamur Trichoderma harzianum. Semoga bermanfaat bagi pengembang dan produsen jamur Trichoderma harzianum.

 

 

 

VIABILITAS Trichoderma harzianum YANG DISIMPAN PADA BEBERAPA BAHAN PEMBAWA DAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA

VIABILITAS trichoderma harzianum YANG DISIMPAN PADA BEBERAPA BAHAN PEMBAWA DAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA
Trichoderma harzianum VIABILITY FROM THREE ORGANIC CARRIERS FOR THE PELLET FORMULATION STORED AT FOUR STORING PERIODS
Salamiah, Edwin Noor Fikri, dan Asmarabia1
1. Jurusan HPT Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Jend. A. Yani
Kotak Pos 1028, Banjarbaru, Tel & Fax. 0511-777392,
e-mail: Salamiah_amsya@yahoo.com
ABSTRACT
The aims of this experiment is to study the effect of three type of peletts as the carriers of Trichoderma harzianum stored at four storing periods on the viability of the fungus. This experiment was conducted at Plant Diseases Laboratory of the Department of Plant Past and Diseases Laboratory of the Faculty of Agriculture – Lambung Mangkurat University. The experiment was arranged in Factorial Completely Randomized Design with two factors and three replicates. The first factor is pellet composition, i.e.rice IR66 flour, white glutinous rice flour, and sweet corn flour, respectively, and the second factor is storing period of the pellets, i.e. 0,2,4,6 and 8 weeks, respectively. The viability of the pellets was evaluated based on the diameter colony and conidial denity of T. harzianum derived from each pellet type stored at the four storing periods. Results showed that the best carrier for T. harzianum pellet is glutinous rice flour.
Key words: Trichoderma harzianum, pelette, pelette material agents, storing period.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh tiga jenis bahan yang digunakan sebagai bahan pembawa dan empat waktu penyimpanan terhadap viabilitas cendawan T. harzianum. Penelitian ini menggunakan metode percobaan laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap Faktorial, dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah bahan pembawa yang terdiri dari tepung beras IR66, tepung ketan putih, dan tepung jagung manis. Faktor yang kedua adalah lama penyimpanan butiran pelet yaitu 0, 2, 4, 6, dan 8 minggu. Pengamatan meliputi viabilitas pelet, diameter koloni dan kerapatan konidium. Hasil menunjukkan bahan pembawa dalam pembuatan pelet yang terbaik adalah tepung ketan putih, karena sampai delapan minggu disimpan masih tumbuh baik ketika ditumbuhkan pada media PDA dengan rata-rata kerapatan konidium tertinggi.
Kata kunci: Trichoderma harzianum, pelet, bahan pembawa, lama penyimpanan
2
PENDAHULUAN
Trichoderma harzianum adalah cendawan antagonis yang digunakan dalam pengendalian beberapa patogen tular tanah seperti Fusarium oxysforum f.sp. lycopersici (FOL) (Ambar, 2003), Sclerotium, Fusarium spp., Rhizoctonia (Papavizas, 1985), Aspergillus flavus (Dharmaputra, Putri, Retnowati, dan Saraswati, 2003), karena selain mempunyai daya kompetisi yang tinggi, memiliki daya tahan hidup lama, mampu mengkolonisasi substrat dengan cepat. T. harzianum juga bersifat sebagai mikoparasit pada hifa dan tubuh-tubuh istirahat dari patogen tumbuhan.
Penggunaan T. harzianum sebagai agen kontrol biologi kebanyakan dilakukan dalam bentuk biakan dalam substrat seperti campuran dedak padi dan serbuk gergaji, pasir + tepung kulit sekam, pasir + tepung jagung dan kulit sekam (Dharmaputra dan Suwandi, 1988), kulit sekam + serbuk gergaji (Sinaga, 1986), jagung manis (Susilo, Santoso dan Tutung, 1994). Cara pemberian dalam bentuk substrat tersebut dirasa kurang praktis dan kurang efisien untuk aplikasi di lapangan, terutama untuk tujuan aplikasi dalam skala luas. Oleh karena itu, perlu dicari bahan pembawa lain yang lebih praktis , efektif dan efisien.
Salah satu cara yang dapat dikembangkan adalah penggunaan biakan agen antagonis dalam bentuk formula pelet. Formula pelet ini bentuknya kecil sehingga lebih praktis untuk dibawa atau dikirim dan diaplikasikan di lapangan. Namun, komposisi dan konsentrasi medium tumbuh akan sangat berpengaruh terhadap daya tahan hidup, sporulasi dan daya antagonisme cendawan T. harzianum (Sinaga, 1989). Oleh karena itu perlu dicari media tumbuh sebagai bahan pembawa yang digunakan dalam pembuatan pelet yang mempunyai kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh T. harzianum. Di samping itu, ada dugaan bahwa semakin lama disimpan, maka viabilitas
3
T. harzianum akan menurun sehingga perlu diteliti pengaruh lama penyimpanan terhadap viabilitas T. harzianum.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tiga jenis bahan yang digunakan sebagai bahan pembawa dan empat waktu penyimpanan terhadap viabilitas cendawan T. harzianum.
BAHAN DAN METODE
Tempat penelitian. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Bahan pembawa dan isolat T. harzianum. Pada penelitian ini digunakan tiga bahan berupa tepung beras IR66, tepung ketan putih dan tepung jagung manis sebagai bahan pembawa pelet. Isolat T. harzianum diperoleh dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA) Banjarbaru yang merupakan hasil isolasi dari lahan pasang surut di Pinang Habang Kalimantan Selatan (Prayudi, 1996).
Pembuatan dan penyimpanan pelet T. harzianum. Beras IR66, ketan putih dan jagung manis dihaluskan sampai berbentuk tepung halus, kemudian diayak. Ayakan yang dipergunakan adalah jenis USA Standard Testing Sieve. ASTME 11 SPECIFICATION N0. 35. Tyler Equievalent 32 Mesh. FISHER SCIENTIFIC COMPANY, Made in MEXICO. Masing-masing tepung sebanyak 200 g dimasukkan ke dalam amplop dan ke dalam masing-masing amplop dimasukkan 25 g tepung bawang putih (sebagai antibiotik). Kemudian masing-masing amplop dibungkus dengan kertas Koran dan dimasukkan ke dalam oven pada suhu 170°C selama 1 jam. Setelah tepung dingin masing-masing tepung sebanyak 200 g dimasukkan dalam kantong plastik dan
4
ditambahkan 150 ml air untuk tepung jagung dan 100 ml air masing-masing untuk tepung beras dan tepung ketan.. Isolat T. harzianum yang berumur 7 hari dengan konsentrasi 105 konidium per ml sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam campuran tersebut, kemudian diaduk agar homogen dan cendawan tersebar merata dalam media. Medium dimasukkan ke dalam cawan petri steril dan dipadatkan sampai ketebalan 0,5 cm. Medium tersebut dipotong-potong dengan cork borer hingga membentuk pelet berdiameter 1 cm (Gambar 1). Butiran pelet kemudian dikeringkan di bawah lampu TL 10 watt selama 12 jam.
Pelet T. harzianum yang telah kering dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disimpan dalam desikator yang diberi silica gel. Lama penyimpanan sesuai dengan perlakuan yaitu 2, 4, 6 dan 8 minggu.
Uji viabilitas pellet T. harzianum. Medium Potato Dextrose Agar (PDA) yang telah mencair sebanyak ± 15 ml dituangkan ke cawan petri steril dan dibiarkan memadat. Kemudian satu butir pelet T. harzianum dari bahan pembawa dan lama penyimpanan yang diuji diletakkan di tengah-tengah cawan. Inkubasi dilakukan dalam incubator pada suhu 28°C selama 5-7 hari, atau dihentikan ketika salah satu koloni cendawan telah mencapai pinggir cawan petri. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.
Pengamatan. Pada uji viabilitas pelet diamati pertumbuhan koloni T. Harzianum dari setiap pelet yang dilakukan sehari setelah peletakan pelet pada PDA. Parameter yang diamati adalah diameter koloni dan kepadatan konidia.
Kerapatan konidium dihitung dengan jalan memanen konidia dari koloni T. Harzianum yang ditumbuhkan dalam cawan petri yang berisi media PDA. Dari biakan ini dibuat suspensi konidia, kemudian dihitung kerapatannya dengan menggunakan Haemocytometer.
5
Rancangan percobaan. Pada penelitian ini digunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial, dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah bahan pembawa dengan tiga taraf yaitu (1) tepung beras IR66, (2) tepung ketan putih,dan (3) tepung jagung manis. Faktor yang kedua adalah lama penyimpanan butiran pelet dengan lima taraf yaitu (1) 0 minggu, (2) 2 minggu, (3) 4 minggu, (4) 6 minggu, dan (5) 8 minggu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Petumbuhan dan perkembangan T. harzianum dipengaruhi oleh bahan pembawa dan lama penyimpanan pelet. Pada media tumbuh tepung beras IR66 dan tepung ketan putih, yang ditumbuhkan dalam pelet tanpa disimpan, pelet mulai berkecambah pada hari pertama ketika ditumbukan pada media PDA. Tetapi yang ditumbuhkan pada media jagung manis baru berkecambah pada hari ketiga (Tabel 1) sehingga diameter koloni lebih kecil. Pada bahan pembawa tepung ketan putih, pelet yang disimpan sampai delapan minggu, begitu ditumbuhkan pada media PDA langsung berkecambah pada hari pertama dan diameter koloni tidak berbeda dengan kontrol. T. harzianum dengan bahan pembawa tepung ketan putih, lebih baik jika dibandingkan dengan bahan pembawa tepung beras IR66 dan bahan pembawa tepung jagung manis (Gambar 2). Hal tersebut diduga karena kandungan bahan pembawa tepung ketan putih memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibanding tepung beras IR66 dan tepung jagung manis. Komposisi dan konsentrasi nutrisi medium tumbuh akan mempengaruhi daya tahan hidup, sporulasi dan daya antagonisme cendawan T. harzianum (Sinaga, 1989). Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan T. harzianum antara lain protein (Bilgrami and Verma, 1981). Tepung ketan putih memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibanding dengan kandungan protein pada kedua bahan
6
pembawa lainnya yakni sebesar 10,59% (Ni’mah, 1999), sedangkan jagung manis mengandung protein sebesar 9,2% (Anonim, 2003a) dan beras mengandung 6,8% protein untuk setiap 100 g bahan (Anonim, 2003b).
Perkecambahan konidia T. harzianum dengan bahan pembawa tepung beras IR66 dan jagung manis sedikit lebih lambat. Pada tepung beras IR66, T. Harzianum dalam formula pelet yang disimpan selama dua minggu mampu berkecambah pada hari pertama dan diameter koloni tidak berbeda dengan T. Harzianum dalam formula pelet tanpa disimpan. Sedangkan T. Harzianum dalam formula pelet dengan lama penyimpanan empat , enam dan delapan minggu baru berkecambah pada hari ketiga. Untuk bahan pembawa tepung jagung manis, T. Harzianum dalam formula pelet yang tidak disimpan baru berkecambah pada hari ketiga dan yang disimpan selama dua, empat , enam dan delapan minggu tidak mampu berkecambah sampai hari keempat, diduga konidia membentuk struktur istirahat dan pada saat ditumbuhkan pada media PDA sampai hari keempat tersebut masih dorman.
Dalam keadaan substrat atau lingkungan yang kurang menguntungkan, cendawan akan membentuk struktur bertahan (Sastrosuwignyo, 1991). Dalam kondisi pertumbuhan yang serba terbatas seperti dalam pelet, T. harzianum diduga akan bertahan dalam bentuk klamidospora. Dalam keadaan segar, klamidospora akan segera berkecambah dengan baik (sebesar 75%) pada saat ditumbuhkan pada nutrien agar, sedangkan klamidospora yang disimpan dalam preparat yang dikeringanginkan prosentase perkecambahannya lebih kecil yakni sebesar 13 – 31% (Papavizas, 1985).
Pelet dengan bahan pembawa tepung ketan putih, menghasilkan konidia dengan kerapatan tertinggi dibanding bahan pembawa tepung beras IR66 dan tepung jagung manis ketika ditumbuhkan pada media PDA (Gambar 3). Hal ini diduga, karena komposisi gizi masing-masing bahan pembawa berbeda (Susilo et al., 1994). Tepung
7
ketan putih memiliki nutrisi yang lebih baik dengan kandungan protein paling tinggi (10,59%) (Ni’mah, 1999) dibandingkan dengan kandungan protein jagung manis yakni sebesar 9,2% (Anonim, 2003a).dan beras IR66 sebesar 6,8% (Anonim, 2003b).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan:
Dari penelitian ini dapat diambil simpulan sebagai berikut:
Tepung ketan putih adalah bahan pembawa dalam pembuatan pellet yang terbaik, karena sampai delapan minggu disimpan masih tumbuh baik ketika ditumbuhkan pada media PDA dan mampu memproduksi konidia dengan kerapatan tertinggi.
Saran:
Untuk pelet dengan bahan pembawa tepung ketan putih, perlu dilakukan pengujian dengan lama penyimpanan lebih dari delapan minggu dan perlu pengujian daya antagonismenya terhadap patogen tanaman di lapang.
DAFTAR PUSTAKA
Ambar, A.A. 2003. Efektivitas waktu inokulasi Trichoderma viridae dalam mencegah penyakit layu Fusarium tomat (Lycopersicon esculentum Mill) di rumah kaca. J. Fitopat. Ind. 7(1) : 7-11.
Anonim. 2003a. Jagung Manis. <http://www. Google.com/Search/q= cache :MPUiR 7 pgc TUC: agrolink.Moa.My/doa/bdc/botani jagung.html> diakses bulan Juli tahun 2003.
Anonim. 2003b. Garut Sumber Karbohidrat Non Beras <http://www. Bbkjateng.go.id/aneka_pangan.htm> diakses bulan Juli tahun 2003.
Bilgrami, K.S. & R.N. Verma. 1981. Physiology of Fungi. Vikas publ. house PVT.
8
Dharmaputra, O.S. & W.P. Suwandi. 1988. Substrat untuk produksi besar-besaran Trichoderma harzianum. Laporan Tahunan Kerjasama Penelitian P.P. Marihat-Biotrop. Seameo-Biotrop. Bogor.
Dharmaputra, O.S., A.S.R. Putri, I. Retnowati, dan S. Saraswati. 2003. Penggunaan Trichoderma harzianum untuk mengendalikan Aspergillus flavus penghasil aflatoksin pada kacang tanah. J. Fitopat. Ind. 7(1): 28-37.
Ni’mah, G.K. 1999. Peranan protein dalam menentukan rasio jantan dan betina dari Sitophilus spp. terhadap beberapa jenis beras ketan. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mngkurat. Banjarbaru.
Papavizas, G.C. 1985. Trichoderma and Gliocladium: Biology, Ecology and Potential for Biocontrol. Ann. Rev. Phytopathol 23: 23-54.
Prayudi, B. 1996. Trichoderma harzianum Isolat Kalimantan Selatan : Agensia Pengendali Hawar Pelepah Daun Padi dan Layu Semai Kedelai di Lahan Pasang Surut. Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV Bogor.
Sastrosuwignyo, S. 1991. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Bagian Penyakit Tanaman). Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Sinaga, M.S. 1989. Potensi Gliocladium spp. sebagai Agen Pengendali Hayati Beberapa Cendawan Patogenik yang Bersifat Soil-Borne. Laporan Penelitian Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Susilo, A; S. Santoso; & H.A. Tutung. 1994. Sporulasi, viabilitas cendawan Metarrhizium anisopliae (Metsc) Sorokin pada media jagung dan patogenisitasnya terhadap larva Oryctes rhinoceros. Dalam Martono, E; E. Mahrub; N.S. Putra & Y. Trisetyawati (eds). Prosiding Makalah Simposium Patologi Serangga I. PEI dan Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.
9
Tabel 1. Penampakan awal koloni Trichiderma Harzianum pada PDA
Table 1. Trichiderma Harzianum colony appearance of pellets on PDA
Perlakuan
Hari ke
A
B
1
2
3
4
a1
a1
a1
a1
a1
a2
a2
a2
a2
a2
a3
a3
a3
a3
a3
b1
b2
b3
b4
b5
b1
b2
b3
b4
b5
b1
b2
b3
b4
b5
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[




Keterangan:
A
= bahan pembawa
B
= lama penyimpanan
a1
= tepung beras IR66
b1
=0 minggu (tanpa penyimpanan
a2
=tepung ketan putih
b2
=2 minggu
a3
=tepung jagung manis
b3
=4 minggu
b4
=6 minggu
b5
=8 minggu
[
=berkecambah

=tidak berkecambah
10
A B C
Gambar 1. Trichoderma harzianum dalam bentuk pellet dengan tiga bahan pembawa. A, tepung beras IR-66; B, tepung ketan putih; C, tepung jagung manis
Figure 1. Diameter colony of Trichoderma harzianum from three types of pellets stored at four different storing periods pelleted on PDA
11
00.511.522.5Beras IR66Ketan putihJagung manis
Gambar 2. Rata-rata diameter koloni (cm) Trichoderma harzianum yang ditumbuhkan pada media PDA dengan tiga bahan pembawa dan lama penyimpanan yang berbeda
Figure 2. Conidial density of Trichoderma harzianum from three types of pellets stored at four different storing periods plated on PDA
12
00.511.522.5Beras IR66Ketan putihJagung manis
Gambar 3. Rata-rata kerapatan konidia (× 109 konidia/ml) Trichoderma harzianum yang ditumbuhkan pada media PDA dengan tiga bahan pembawa dan lama penyimpanan yang berbeda
Figure 3. Average of conidium density of Trichoderma harzianum which is grown on PDA medium with three pelette material agents and different storing period

Pupuk Biologis Trichoderma

Pupuk merupakan bahan tambahan yang diberikan ke tanah untuk tujuan memperkaya atau meningkatkan kondisi kesuburan tanah baik khemis, fisis maupun biologisnya. Kesuburan kimia tanah dinilai dari kandungan ion mineral dan kapasitas pertukaran kationnya untuk menyediakan makanan siap saji bagi tanaman. Kesuburan fisis adalah keadaan tanah yang tidak compact atau gembur sehingga menyediakan aerasi dan drainase yang baik dan tidak menyiksa akar tanaman. Sedangkan kesuburan biologis tanah juga sangat penting, kandungan mikroorganisme tanah yang mendukung proses penguraian bahan organik menjadi mineral anorganik adalah definisi kesuburan biologis tanah.

Perbaikan kondisi kesuburan tanah yang paling praktis adalah dengan penambahan pupuk ke tanah. Namun perlu diperhatikan keseimbangan kesuburan tanah sehingga pupuk yang diberikan dapat efektif dan efisien. Penambahan pupuk anorganik yang menyediakan ion mineral siap saji saja akan merusak kesuburan fisis tanah, dimana tanah menjadi keras dan kompak. Dengan demikian, aplikasi pupuk organik akan sangat memperbaiki kondisi tanah. Sayang pupuk organik lebih lambat untuk terurai menjadi ion mineral, apalagi jika aplikasinya hanya berupa penambahan bahan organik mentah saja. Maka dari itu kandungan mokroorganisme tanah juga perlu diperkaya untuk mempercepat dekomposisi, sehingga kesuburan tanah dapat terjaga.

Salah satu mikroorganisme fungsional yang dikenal luas sebagai pupuk biologis tanah adalah jamur Trichoderma sp. Mikroorganisme ini adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan. Spesies Trichoderma disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati seperti T. Harzianum, T. Viridae, dan T. Konigii yang berspektrum luas pada berbagai tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma dalam media aplikatif seperti dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai biofungisida, Trichoderma dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dll.

Pupuk biologis Trichoderma dapat dibuat dengan inokulasi biakan murni pada media aplikatif, misalnya dedak. Sedangkan biakan murni dapat dibuat melalui isolasi dari perakaran tanaman, serta dapat diperbanyak dan diremajakan kembali pada media PDA (Potato Dextrose Agar). Isolasi banyak dilakukan oleh kalangan peneliti maupun produsen pupuk, tetapi masih terlalu merepotkan untuk diadopsi oleh petani. Sebagai petani, untuk lebih efisiennya dapat memproduksi pupuk biologis yang siap aplikasi saja, sehingga hanya perlu membeli dan memperbanyak sendiri biakan murninya dan diinokulasikan pada media aplikatif. Atau jika menginginkan kepraktisan dapat membeli pupuk yang siap tebar untuk setiap kali aplikasi.

Pembuatan pupuk biologis Trichoderma sangat sederhana, seperti berikut ini:

A. Bahan
Biakan murni Trichoderma sp. (kami menggunakan T. harzianum dan atau T. lactae). Media aplikatif, dapat berupa dedak karena murah dan mudah didapat. Selain dedak dapat juga tepung agar, beras, ataupun jagung giling, namun beberapa pilihan ini kurang ekonomis untuk dipergunakan. Air.

B. Alat
Alat pensteril media, dapat berupa pengkukus atau dandang. Plastik hampar dan tempat rata untuk inokulasi dan inkubasi.

C.Cara Pembuatan
Dedak dibasahi dengan air sampai kelembaban yang cukup, tidak terlalu basah (jika dipegang lembab tetapi air tidak sampai menetes). Media dedak distreilkan dengan cara mengkukusnya selama 1 jam. Setelah didinginkan, diinokulasi dengan biakan murni Trichoderma pada hamparan plastik, untuk 1 tabung reaksi biakan nurni dapat digunakan untuk inokulasi 10 Kg media dedak. Setelah inokulasi, hamparan media ditutup kembali dengan plastik, dan diingkubasikan selama 1 minggu sampai spora berkembang maksimal. Tempat inokulasi dan inkubasi diusahakan rata dan teduh, tidak lembab apalagi basah, usahakan didalam ruangan. Selesai inkubasi, pupuk dapat segera diplikasikan ke areal pertanaman ataupun disimpan. Dosis yang dapat digunakan 1 – 2 sendok makan per batang tanaman (untuk vanili). Selain pada petanaman dewasa, pupuk Trichoderma dapat pula digunakan dalam pembibitan, maupun penanaman awal dan pindah tanam.

Terimakasih kepada Riri atas artikel yang dibuatnya. Ingin berkonsultasi lebih jauh terkait Pupuk Biologis Trichoderma, silahkan menghubungi Sdri. Riri selaku Asst.Manajer Perkebunan di Villa Domba, HP.0856.438.21499 ataupun dengan Sdr. Chrismantoro Susilo selaku Manajer Perkebunan melalui HP.0815.787.30437 .Untukmu Indonesia! Salam Petani Organik!

Islamic Clock