PERBANYAKAN MASSAL CENDAWAN Verticilium lecanii

Verticillium lecanii

Pengenalan dan karateristiknya

Oleh

Cahyo Artho Nugroho

P2APH

PETANI PENGEMBANG AGENSIA PENGENDALI HAYATI

JOMBANG – JAWA TIMUR

Pengenalan  cendawan Verticillium lecanii

Verticillium lecanii termasuk dalam devisi Deuteromikotina: Hyphomycetes.  Cendawan dalam kelas ini mempunyai paling banyak spesies yang mampu menyababkan penyakit pada serangga hama (Ferron1985).  Cendawan Verticillium lecanii dapat digunakan untuk mengendalikan serangga hama  terutama dari ordo Homoptera (Hoddle 1999;cloyd 1003) dan Hemiptera (Charnly 2003;Prayogo 2004)

Cendawan Verticillium lecanii mudah tumbuh pada berbagai media, terutama pada medium PDA dan beras.  Di dalam cawan Petri, diameter koloni dapat mencapai 4-5 cm pada tiga hari setelah inokulasi.  Koloni cendawan berwarna putih pucat.  Dua hari setelah inokulasi, cendawan sudah mampu memproduksi konidia.  Kumpulan konidia ditopang oleh tangkai konodiofor yang membentuk phialid (whorls) seperti huruf V.  Setiap konidia menopang 5-10 konidia yang terbungkus dalam kantong lendir.  Konidia berbentuk silinder hingga elip, terdiri dari satu sel, tidak berwarna dan berukuran 2,30-10×1-2,60 um.

Cendawan Verticillium lecanii tumbuh baik pada suhu 18-30 derajad celcius dan kelembaban minimal 80%.  Pada kelembaban lebih dari 90% cendawan tumbuh sangat baik (Cloyd 2003)

Cendawan Verticillium lecanii bersifat parasit, namun akan berubah menjadi saprofit bila kondisi tidak menguntungkan, misalnya dengan hidup pada seresah atau sisa-sisa hasil pertanian.  Cendawan  Verticillium lecanii mampu hidup pada bahan organik yang mati dalam rentang waktu yang sangat panjang (Tanada dan Kaya 1993)

  • Mekanisme infeksi Verticillium lecanii pada serangga

Terdapat empat tahap etiologi penyakit serangga yang disebabakan oleh cendawan (Ferron 1985).  Tahap pertama adalah inokulasi, yaitu kontak antara propagul cendawan dengan tubuh inang.  Propagul cendawan V. lecanii berupa konidia.  V. lecanii berkembangbiak secara tidak sempurna (imperfecti) (Ferron 1985).  Selain konidia, organ lain seperti hifa juga berfungsi sebagai alat infeksi pada serangga inang.  Pada saat tersebut senyawa mukopolisakarida memegang peranan yang sangat penting.

Tahap kedua yaitu  proses penempelan dan perkecambahan propagul cendawan pada intergumen serangga (Ferron 1985; Butts 2003; Kanga et al. 2003) Kelembaban yang tinggi dan bahkan air sangat diperlukan untuk perkecambahan propagul cendawan (Silva dan Messias 1985; Chamdler et al. 1993; glare et al. 1995).  Pada tahap ini konidia cendawan akan memanfaatkan senyawa-senyawa yang terdapat pada lapisan interguman serangga.

Tahap ketiga yaitu penetrasi dan invasi pada tubuh serangga.  Pada waktu melakukan penetrasi dan menembus intergumen, cendawan membentuk tabung kecambah (appresorium) (Tyrrell dan Macleod 1975; Perry et all, 1982; Bidochka et al. 2000).  Pada tahap ini proses tersebut dipengaruhi oleh konfigurasi morfologi integument dengan titik penetrasi kecambah cendawan (Santoso 1993).  Penembusan dilakukan secara mekanis atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin.

Keempat adalah dekstruksi pada titik penetrasi dan terbentuknya blastospora yang kemudian beredar dalam haemolimfa dan membentuk hifa sekunder untuk menyerang jaringan lainnya (Tanada dan Kaya 1993).  Beberapa jenis cendawan entomopatogen mempunyai kurang lebih lima jenis enzim, yaitu khitinase, amylase, proteinase (Lee dan Hou 2003)

  • WAKTU APLIKASI

Keefektifan cendawan entomopatogen dipengaruhi oleh waktu aplikasi. Setelah diaplikasikan, cendawan entomopatogen memerlukan kelembapan yang tinggi untuk tumbuh dan berkembang (Lacey dan Goettel 1995; Mazet et al. 1996). Kelembapan udara yang tinggi diperlukan selama proses pembentukan tabung kecambah (germ tube), sebelum terjadi penetrasi ke integumen serangga (Stein-kraus dan Slaymaker 1994; Arthurs dan thomas 2001). Kelembapan di atas 90% selama 6−12 jam setelah inokulasi dibutuhkan cendawan untuk melakukan pene-trasi ke dalam tubuh serangga (Hoddle1999; Altre dan Vandenberg 2001a; Cloyd 2003).

Waktu aplikasi perlu diperhatikan karena cendawan entomopatogen sangat rentan terhadap sinar matahari khususnya sinar ultra violet (Altre dan Vandenberg 2001b; Cloyd 2003). Bila terkena sinar matahari dalam waktu 4 jam, cendawan V. lecanii akan kehilangan viabilitas sebesar 16% (Suharsono dan Prayogo 2005), dan bila terkena sinar matahari 8 jam, viabilitas berkurang hingga di atas 50%. Oleh karena itu, bila cendawan diaplikasikan pada musim kemarau perlu dihindarkan dari sinar matahari langsung dan sebaiknya aplikasi dilakukan pada saat kelembapan udara tinggi (sore hari). Keberhasilan aplikasi cendawan entomopatogen pada musim hujan belum pernah dilaporkan. Aplikasi V. lecanii pada sore hari (setelah pukul 16.00) mampu menyebab- kan kematian hama pengisap polong kedelai R. linearis hingga 80%. Makin tinggi mortalitas serangga, jumlah biji yang rusak pun makin menurun (Prayogo danTengkano 2004b). Penurunan kerusakan biji tampak pada jumlah tusukan stilet R. linearis yang hanya 3 tusukan tiap biji bila cendawan entomopatogen diapli kasikan pada sore hari, dan meningkat menjadi 4,70−6,30 tusukan tiap biji bila aplikasi dilakukan pada pagi hingga siang.

  • KONSENTRASI APLIKASI

Keberhasilan pengendalian hama dengan cendawan entomopatogen juga diten tukan oleh konsentrasi cendawan yang diaplikasikan (Hall 1980), yaitu kerapatan

konidia dalam setiap mililiter air. Jumlah konidia berkaitan dengan banyaknya biakan cendawan yang dibutuhkan setiap hektar. Kerapatan konidia yang dibutuhkan untuk mengendalikan hama bergantung pada jenis dan populasi hama yang akan dikendalikan (Tohidin et al. 1993; Wikardi 1993).

Pada tanaman pangan, kerapatan konidia yang dibutuhkan lebih tinggi dibandingkan dengan pada tanaman perkebunan.

  • Perbanyakan Cendawan Verticillium lecanii

Suatu agens hayati akan mudah diadopsi pengguna apabila agens tersebut memiliki beberapa kelebihan, antara lain efektif terhadap hama sasaran, mudah dan cepat diperbanyak, murah, mudah menyesuaikan dengan lingkungan setempat, kompatibel dengan cara pengendalian yang lain dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.  Pada umumnya agens hayati sulit untuk memenuhi semua kreteria tersebut.

Cendawan Verticillium lecanii, walaupun tidak seefektif insektisida kimia, memenuhi beberapa syarat tersebut.  Oleh karena itu Verticillium lecanii memiliki peran yang cukup penting dalam mengendalikan serangga hama.

Cendawan ini dapat diperbanyak pada berbagai media, terutama beras.  Beras dimasukkan dalam kantong plastik kemudian disterilisasi dengan autoclave.  Selanjutnya isolat cendawan Verticillium lecanii diinokulasikan pada medium tersebut.  Koloni cendawan akan tumbuh pada dua minggu setelah inokulasi.  Biakan cendawan lalu diencerkan dengan air lalu disaring dengan kain kassa.  Suspensi konidia cendawan dihitung denagan menggunakan haemocytometer hingga kerapatan konidia 10 pangkat 7, atau setara dengan 200 gram biakan cendawan umur dua minggu setelah inokulasi dalam 5 liter air (Prayogo 2003). Selanjutnya cendawan siap diaplikasikan

Sebelum diaplikasikan, kedalam suspensi cendawan ditambahkan bahan perekat untuk melindungi koniodia dari aiar hujan atau angin dan molase atau gula pasir sebagai cadangan energi bagi cendawan Verticillium lecanii.  Aplikasi pada sore hari lebh efektif daripada pagi maupun siang hari,

Teknik Aplikasi Lapang cendawan Verticillium lecanii

  1. Hama sasaran  : Serangga hama kelompok kutu (kutu putih, kutu kebul, kutu hijau dll)
  2. Stadia yang dikendalikan : Nimfa dan imago
  3. Sasaran pengendalian : Daun muda dan buah muda yang terserang kutu
  1. Bahan dan alat             :
  • Cendawan Verticillium lecanii
  • Air
  • Molase / gula pasir
  • Perekat
  • Ember
  • Kain kassa / saringan
  • Pengaduk
  • Sprayer (Knapsack/mist blower)

Pelaksanaan Aplikasi

  1. Persyaratan teknikl pra aplikasi
  • Suhu lapang 18-25 derajat celcius (Sore hari pukul 15.30 atau lebih)
  • Kelembaban relative lapang 80-100% (Sore hari pukul 15.30 atau lebih)
  • Alat semprot harus bebas pestisida kimia
  • Kepadatan konodia cendawan Verticillium > 10 pangkat 6
  • Viabilitas konidia cendawan Verticillium > 80%
  1. Pembuatan larutan Verticillium lecanii
  • Ambil biakan Cendawan Verticillium lecanii (1kg) campur dengan air sebanyak satu liter. Remas dan aduk suspensi tersebut sampai konidia terlepas semua kemudian saring.
  • Tambahkan air bersih sebanyak 15-30 liter
  • Tambahkan molase atau gula pasir 10 sendok makan
  • Tambahkan bahan perekat lalu aduk hingga rata
  • Masukkan larutan tersebut kedalam alat semprot
  • Cendawan Verticillium lecanii siap diaplikasikan sebagai bioinsektisida
  1. Pelaksanaan Penyemprotan
  • Pelaksanaan penyemprotan dilakukan dengan cara menyemprotkan larutan cendawan Verticillium lecanii pada hama sasaran atau daun dan buah yang masih muda.
  • Dosis penyemprotan adalah 50-70 liter/ha
  • Waktu aplikasi sebaiknya sore hari diatas jam 15.00

Tulisan ini disadur dari berbagai sumber

4 responses to “PERBANYAKAN MASSAL CENDAWAN Verticilium lecanii

  1. bagaimana virticillium apa bisa di substitusikan ke pupuk organik dan apa dia bisa berkembang disitu ?
    terima kasih atas jawabannya.

  2. Pak,kalo boleh tau dmana sya bsa dpatkn biang verticillium tsb?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s