VIABILITAS Trichoderma harzianum YANG DISIMPAN PADA BEBERAPA BAHAN PEMBAWA DAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA

VIABILITAS trichoderma harzianum YANG DISIMPAN PADA BEBERAPA BAHAN PEMBAWA DAN LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA
Trichoderma harzianum VIABILITY FROM THREE ORGANIC CARRIERS FOR THE PELLET FORMULATION STORED AT FOUR STORING PERIODS
Salamiah, Edwin Noor Fikri, dan Asmarabia1
1. Jurusan HPT Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Jend. A. Yani
Kotak Pos 1028, Banjarbaru, Tel & Fax. 0511-777392,
e-mail: Salamiah_amsya@yahoo.com
ABSTRACT
The aims of this experiment is to study the effect of three type of peletts as the carriers of Trichoderma harzianum stored at four storing periods on the viability of the fungus. This experiment was conducted at Plant Diseases Laboratory of the Department of Plant Past and Diseases Laboratory of the Faculty of Agriculture – Lambung Mangkurat University. The experiment was arranged in Factorial Completely Randomized Design with two factors and three replicates. The first factor is pellet composition, i.e.rice IR66 flour, white glutinous rice flour, and sweet corn flour, respectively, and the second factor is storing period of the pellets, i.e. 0,2,4,6 and 8 weeks, respectively. The viability of the pellets was evaluated based on the diameter colony and conidial denity of T. harzianum derived from each pellet type stored at the four storing periods. Results showed that the best carrier for T. harzianum pellet is glutinous rice flour.
Key words: Trichoderma harzianum, pelette, pelette material agents, storing period.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh tiga jenis bahan yang digunakan sebagai bahan pembawa dan empat waktu penyimpanan terhadap viabilitas cendawan T. harzianum. Penelitian ini menggunakan metode percobaan laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap Faktorial, dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah bahan pembawa yang terdiri dari tepung beras IR66, tepung ketan putih, dan tepung jagung manis. Faktor yang kedua adalah lama penyimpanan butiran pelet yaitu 0, 2, 4, 6, dan 8 minggu. Pengamatan meliputi viabilitas pelet, diameter koloni dan kerapatan konidium. Hasil menunjukkan bahan pembawa dalam pembuatan pelet yang terbaik adalah tepung ketan putih, karena sampai delapan minggu disimpan masih tumbuh baik ketika ditumbuhkan pada media PDA dengan rata-rata kerapatan konidium tertinggi.
Kata kunci: Trichoderma harzianum, pelet, bahan pembawa, lama penyimpanan
2
PENDAHULUAN
Trichoderma harzianum adalah cendawan antagonis yang digunakan dalam pengendalian beberapa patogen tular tanah seperti Fusarium oxysforum f.sp. lycopersici (FOL) (Ambar, 2003), Sclerotium, Fusarium spp., Rhizoctonia (Papavizas, 1985), Aspergillus flavus (Dharmaputra, Putri, Retnowati, dan Saraswati, 2003), karena selain mempunyai daya kompetisi yang tinggi, memiliki daya tahan hidup lama, mampu mengkolonisasi substrat dengan cepat. T. harzianum juga bersifat sebagai mikoparasit pada hifa dan tubuh-tubuh istirahat dari patogen tumbuhan.
Penggunaan T. harzianum sebagai agen kontrol biologi kebanyakan dilakukan dalam bentuk biakan dalam substrat seperti campuran dedak padi dan serbuk gergaji, pasir + tepung kulit sekam, pasir + tepung jagung dan kulit sekam (Dharmaputra dan Suwandi, 1988), kulit sekam + serbuk gergaji (Sinaga, 1986), jagung manis (Susilo, Santoso dan Tutung, 1994). Cara pemberian dalam bentuk substrat tersebut dirasa kurang praktis dan kurang efisien untuk aplikasi di lapangan, terutama untuk tujuan aplikasi dalam skala luas. Oleh karena itu, perlu dicari bahan pembawa lain yang lebih praktis , efektif dan efisien.
Salah satu cara yang dapat dikembangkan adalah penggunaan biakan agen antagonis dalam bentuk formula pelet. Formula pelet ini bentuknya kecil sehingga lebih praktis untuk dibawa atau dikirim dan diaplikasikan di lapangan. Namun, komposisi dan konsentrasi medium tumbuh akan sangat berpengaruh terhadap daya tahan hidup, sporulasi dan daya antagonisme cendawan T. harzianum (Sinaga, 1989). Oleh karena itu perlu dicari media tumbuh sebagai bahan pembawa yang digunakan dalam pembuatan pelet yang mempunyai kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh T. harzianum. Di samping itu, ada dugaan bahwa semakin lama disimpan, maka viabilitas
3
T. harzianum akan menurun sehingga perlu diteliti pengaruh lama penyimpanan terhadap viabilitas T. harzianum.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tiga jenis bahan yang digunakan sebagai bahan pembawa dan empat waktu penyimpanan terhadap viabilitas cendawan T. harzianum.
BAHAN DAN METODE
Tempat penelitian. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Bahan pembawa dan isolat T. harzianum. Pada penelitian ini digunakan tiga bahan berupa tepung beras IR66, tepung ketan putih dan tepung jagung manis sebagai bahan pembawa pelet. Isolat T. harzianum diperoleh dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA) Banjarbaru yang merupakan hasil isolasi dari lahan pasang surut di Pinang Habang Kalimantan Selatan (Prayudi, 1996).
Pembuatan dan penyimpanan pelet T. harzianum. Beras IR66, ketan putih dan jagung manis dihaluskan sampai berbentuk tepung halus, kemudian diayak. Ayakan yang dipergunakan adalah jenis USA Standard Testing Sieve. ASTME 11 SPECIFICATION N0. 35. Tyler Equievalent 32 Mesh. FISHER SCIENTIFIC COMPANY, Made in MEXICO. Masing-masing tepung sebanyak 200 g dimasukkan ke dalam amplop dan ke dalam masing-masing amplop dimasukkan 25 g tepung bawang putih (sebagai antibiotik). Kemudian masing-masing amplop dibungkus dengan kertas Koran dan dimasukkan ke dalam oven pada suhu 170°C selama 1 jam. Setelah tepung dingin masing-masing tepung sebanyak 200 g dimasukkan dalam kantong plastik dan
4
ditambahkan 150 ml air untuk tepung jagung dan 100 ml air masing-masing untuk tepung beras dan tepung ketan.. Isolat T. harzianum yang berumur 7 hari dengan konsentrasi 105 konidium per ml sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam campuran tersebut, kemudian diaduk agar homogen dan cendawan tersebar merata dalam media. Medium dimasukkan ke dalam cawan petri steril dan dipadatkan sampai ketebalan 0,5 cm. Medium tersebut dipotong-potong dengan cork borer hingga membentuk pelet berdiameter 1 cm (Gambar 1). Butiran pelet kemudian dikeringkan di bawah lampu TL 10 watt selama 12 jam.
Pelet T. harzianum yang telah kering dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disimpan dalam desikator yang diberi silica gel. Lama penyimpanan sesuai dengan perlakuan yaitu 2, 4, 6 dan 8 minggu.
Uji viabilitas pellet T. harzianum. Medium Potato Dextrose Agar (PDA) yang telah mencair sebanyak ± 15 ml dituangkan ke cawan petri steril dan dibiarkan memadat. Kemudian satu butir pelet T. harzianum dari bahan pembawa dan lama penyimpanan yang diuji diletakkan di tengah-tengah cawan. Inkubasi dilakukan dalam incubator pada suhu 28°C selama 5-7 hari, atau dihentikan ketika salah satu koloni cendawan telah mencapai pinggir cawan petri. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali.
Pengamatan. Pada uji viabilitas pelet diamati pertumbuhan koloni T. Harzianum dari setiap pelet yang dilakukan sehari setelah peletakan pelet pada PDA. Parameter yang diamati adalah diameter koloni dan kepadatan konidia.
Kerapatan konidium dihitung dengan jalan memanen konidia dari koloni T. Harzianum yang ditumbuhkan dalam cawan petri yang berisi media PDA. Dari biakan ini dibuat suspensi konidia, kemudian dihitung kerapatannya dengan menggunakan Haemocytometer.
5
Rancangan percobaan. Pada penelitian ini digunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial, dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah bahan pembawa dengan tiga taraf yaitu (1) tepung beras IR66, (2) tepung ketan putih,dan (3) tepung jagung manis. Faktor yang kedua adalah lama penyimpanan butiran pelet dengan lima taraf yaitu (1) 0 minggu, (2) 2 minggu, (3) 4 minggu, (4) 6 minggu, dan (5) 8 minggu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Petumbuhan dan perkembangan T. harzianum dipengaruhi oleh bahan pembawa dan lama penyimpanan pelet. Pada media tumbuh tepung beras IR66 dan tepung ketan putih, yang ditumbuhkan dalam pelet tanpa disimpan, pelet mulai berkecambah pada hari pertama ketika ditumbukan pada media PDA. Tetapi yang ditumbuhkan pada media jagung manis baru berkecambah pada hari ketiga (Tabel 1) sehingga diameter koloni lebih kecil. Pada bahan pembawa tepung ketan putih, pelet yang disimpan sampai delapan minggu, begitu ditumbuhkan pada media PDA langsung berkecambah pada hari pertama dan diameter koloni tidak berbeda dengan kontrol. T. harzianum dengan bahan pembawa tepung ketan putih, lebih baik jika dibandingkan dengan bahan pembawa tepung beras IR66 dan bahan pembawa tepung jagung manis (Gambar 2). Hal tersebut diduga karena kandungan bahan pembawa tepung ketan putih memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibanding tepung beras IR66 dan tepung jagung manis. Komposisi dan konsentrasi nutrisi medium tumbuh akan mempengaruhi daya tahan hidup, sporulasi dan daya antagonisme cendawan T. harzianum (Sinaga, 1989). Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan T. harzianum antara lain protein (Bilgrami and Verma, 1981). Tepung ketan putih memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibanding dengan kandungan protein pada kedua bahan
6
pembawa lainnya yakni sebesar 10,59% (Ni’mah, 1999), sedangkan jagung manis mengandung protein sebesar 9,2% (Anonim, 2003a) dan beras mengandung 6,8% protein untuk setiap 100 g bahan (Anonim, 2003b).
Perkecambahan konidia T. harzianum dengan bahan pembawa tepung beras IR66 dan jagung manis sedikit lebih lambat. Pada tepung beras IR66, T. Harzianum dalam formula pelet yang disimpan selama dua minggu mampu berkecambah pada hari pertama dan diameter koloni tidak berbeda dengan T. Harzianum dalam formula pelet tanpa disimpan. Sedangkan T. Harzianum dalam formula pelet dengan lama penyimpanan empat , enam dan delapan minggu baru berkecambah pada hari ketiga. Untuk bahan pembawa tepung jagung manis, T. Harzianum dalam formula pelet yang tidak disimpan baru berkecambah pada hari ketiga dan yang disimpan selama dua, empat , enam dan delapan minggu tidak mampu berkecambah sampai hari keempat, diduga konidia membentuk struktur istirahat dan pada saat ditumbuhkan pada media PDA sampai hari keempat tersebut masih dorman.
Dalam keadaan substrat atau lingkungan yang kurang menguntungkan, cendawan akan membentuk struktur bertahan (Sastrosuwignyo, 1991). Dalam kondisi pertumbuhan yang serba terbatas seperti dalam pelet, T. harzianum diduga akan bertahan dalam bentuk klamidospora. Dalam keadaan segar, klamidospora akan segera berkecambah dengan baik (sebesar 75%) pada saat ditumbuhkan pada nutrien agar, sedangkan klamidospora yang disimpan dalam preparat yang dikeringanginkan prosentase perkecambahannya lebih kecil yakni sebesar 13 – 31% (Papavizas, 1985).
Pelet dengan bahan pembawa tepung ketan putih, menghasilkan konidia dengan kerapatan tertinggi dibanding bahan pembawa tepung beras IR66 dan tepung jagung manis ketika ditumbuhkan pada media PDA (Gambar 3). Hal ini diduga, karena komposisi gizi masing-masing bahan pembawa berbeda (Susilo et al., 1994). Tepung
7
ketan putih memiliki nutrisi yang lebih baik dengan kandungan protein paling tinggi (10,59%) (Ni’mah, 1999) dibandingkan dengan kandungan protein jagung manis yakni sebesar 9,2% (Anonim, 2003a).dan beras IR66 sebesar 6,8% (Anonim, 2003b).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan:
Dari penelitian ini dapat diambil simpulan sebagai berikut:
Tepung ketan putih adalah bahan pembawa dalam pembuatan pellet yang terbaik, karena sampai delapan minggu disimpan masih tumbuh baik ketika ditumbuhkan pada media PDA dan mampu memproduksi konidia dengan kerapatan tertinggi.
Saran:
Untuk pelet dengan bahan pembawa tepung ketan putih, perlu dilakukan pengujian dengan lama penyimpanan lebih dari delapan minggu dan perlu pengujian daya antagonismenya terhadap patogen tanaman di lapang.
DAFTAR PUSTAKA
Ambar, A.A. 2003. Efektivitas waktu inokulasi Trichoderma viridae dalam mencegah penyakit layu Fusarium tomat (Lycopersicon esculentum Mill) di rumah kaca. J. Fitopat. Ind. 7(1) : 7-11.
Anonim. 2003a. Jagung Manis. <http://www. Google.com/Search/q= cache :MPUiR 7 pgc TUC: agrolink.Moa.My/doa/bdc/botani jagung.html> diakses bulan Juli tahun 2003.
Anonim. 2003b. Garut Sumber Karbohidrat Non Beras <http://www. Bbkjateng.go.id/aneka_pangan.htm> diakses bulan Juli tahun 2003.
Bilgrami, K.S. & R.N. Verma. 1981. Physiology of Fungi. Vikas publ. house PVT.
8
Dharmaputra, O.S. & W.P. Suwandi. 1988. Substrat untuk produksi besar-besaran Trichoderma harzianum. Laporan Tahunan Kerjasama Penelitian P.P. Marihat-Biotrop. Seameo-Biotrop. Bogor.
Dharmaputra, O.S., A.S.R. Putri, I. Retnowati, dan S. Saraswati. 2003. Penggunaan Trichoderma harzianum untuk mengendalikan Aspergillus flavus penghasil aflatoksin pada kacang tanah. J. Fitopat. Ind. 7(1): 28-37.
Ni’mah, G.K. 1999. Peranan protein dalam menentukan rasio jantan dan betina dari Sitophilus spp. terhadap beberapa jenis beras ketan. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mngkurat. Banjarbaru.
Papavizas, G.C. 1985. Trichoderma and Gliocladium: Biology, Ecology and Potential for Biocontrol. Ann. Rev. Phytopathol 23: 23-54.
Prayudi, B. 1996. Trichoderma harzianum Isolat Kalimantan Selatan : Agensia Pengendali Hawar Pelepah Daun Padi dan Layu Semai Kedelai di Lahan Pasang Surut. Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV Bogor.
Sastrosuwignyo, S. 1991. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Bagian Penyakit Tanaman). Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Sinaga, M.S. 1989. Potensi Gliocladium spp. sebagai Agen Pengendali Hayati Beberapa Cendawan Patogenik yang Bersifat Soil-Borne. Laporan Penelitian Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Susilo, A; S. Santoso; & H.A. Tutung. 1994. Sporulasi, viabilitas cendawan Metarrhizium anisopliae (Metsc) Sorokin pada media jagung dan patogenisitasnya terhadap larva Oryctes rhinoceros. Dalam Martono, E; E. Mahrub; N.S. Putra & Y. Trisetyawati (eds). Prosiding Makalah Simposium Patologi Serangga I. PEI dan Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.
9
Tabel 1. Penampakan awal koloni Trichiderma Harzianum pada PDA
Table 1. Trichiderma Harzianum colony appearance of pellets on PDA
Perlakuan
Hari ke
A
B
1
2
3
4
a1
a1
a1
a1
a1
a2
a2
a2
a2
a2
a3
a3
a3
a3
a3
b1
b2
b3
b4
b5
b1
b2
b3
b4
b5
b1
b2
b3
b4
b5
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[
[




Keterangan:
A
= bahan pembawa
B
= lama penyimpanan
a1
= tepung beras IR66
b1
=0 minggu (tanpa penyimpanan
a2
=tepung ketan putih
b2
=2 minggu
a3
=tepung jagung manis
b3
=4 minggu
b4
=6 minggu
b5
=8 minggu
[
=berkecambah

=tidak berkecambah
10
A B C
Gambar 1. Trichoderma harzianum dalam bentuk pellet dengan tiga bahan pembawa. A, tepung beras IR-66; B, tepung ketan putih; C, tepung jagung manis
Figure 1. Diameter colony of Trichoderma harzianum from three types of pellets stored at four different storing periods pelleted on PDA
11
00.511.522.5Beras IR66Ketan putihJagung manis
Gambar 2. Rata-rata diameter koloni (cm) Trichoderma harzianum yang ditumbuhkan pada media PDA dengan tiga bahan pembawa dan lama penyimpanan yang berbeda
Figure 2. Conidial density of Trichoderma harzianum from three types of pellets stored at four different storing periods plated on PDA
12
00.511.522.5Beras IR66Ketan putihJagung manis
Gambar 3. Rata-rata kerapatan konidia (× 109 konidia/ml) Trichoderma harzianum yang ditumbuhkan pada media PDA dengan tiga bahan pembawa dan lama penyimpanan yang berbeda
Figure 3. Average of conidium density of Trichoderma harzianum which is grown on PDA medium with three pelette material agents and different storing period

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s